Cinta Lama Bersemi Kembali – Part 1

“… back to 2006 …”

Sore itu di daerah Kemang, seorang sahabat saya menunjukan mainan barunya … Vespa ET 4 – 150 cc … saat itu sekejap saja saya langsung berkata dalam hati … woooow … bagaimana tidak, skuter automatic italy tersebut berwarna cream pastel (creamy nama motornya), dengan jok kulit warna coklat, windshield tinggi dan box mungil lucu dibelakangnya membuat jantung berdebar debar. Ditambah lagi, tidak berapa lama kemudian sering sekali anak anak Piaggio Club Indonesia melakukan konvoi. Barisan Vespa cute dengan warna warna yang cerah di jalan tentu saja saat itu bukan pemandangan yang umum dilihat.

Akhirnya, niat ingin memilikinya pun dibulatkan. Mulailah pencarian dimulai, kontak beberapa orang, referensi dan informasi dari “genk” baru pun mulai berdatangan … Sialnya saat itu, belum ada yang cocok, dan kalaupun cocok ternyata tidak dijual

IMG_3018

Untungnya … tidak terlalu lama kemudian … Piaggio membuka showroom resmi di Jakarta. Beberapa kali kunjungan dan ngobrol – ngobrol, akhirnya memberanikan diri juga untuk mengambil leasing untuk membeli vespa LX 150 warna silver, harganya waktu itu lumayan mahal untuk anak muda umur 25 tahun seperti saya … 46 juta rupiah untuk skuter matik ini. Warna silver yang dipilih karena sepertinya kontras yang cukup unik antara frame klasik vespa dengan warna silver futuristik. Hunting aksesoris pun dimulai … penambahan whitewall, wind screen tinggi, box, throttle rocker (katanya supaya tangan ngga pegel) dan tidak lupa bendera antena segitiga vespa ditangkringkan di bagian bawah belakang motor imut ini. Mulailah aktivitas rutin nongkrong bersama “anak – anak vespa” yang lain setiap minggunya… bubur senopati, bubur tanjung menteng, puncak trip yang akhirnya merasa kok 150 cc sepertinya kurang tenaga ya … alhasil datanglah block malossi untuk bore up mesin ke 183 cc … puas rasanya.

“… changing color …”

Setelah beberapa lama gaul dengan anak anak vespa kawakan, sepertinya kurang asik kalau vespa warnanya masih standard pabrik, mulailah racun repainting dimulai. Saat itu sepertinya tahun 2009, warna putih susu dengan stripe merah dibagian side body sepertinya cukup simple tetapi memberikan kesan racing ditambah detailing di bagian dashboard yang sewarna dengan stripenya … OK deh eksekusi… hasilnya lumayan memuaskan dan cukup deg-deg an setiap kali dibawa di jalan karena warna di STNK beda dengan warna motor …

Selang 2 tahun kemudian, mulai bosan dengan warna putih, proses diskusi repainting pun dimulai kembali … hasil diskusi akhirnya jatuh kepada warna biru (my favourite colour) tetapi ditambah dengan detailing di bagian lis yang diberi warna orange.

“… sweet memories…”

IMG_4484… Banyak sekali kenangan dengan skuter ini. PDKT jemput mantan pacar yang sekarang sudah jadi istri makan bubur malam malam di Cikini; Si “Perkedel” (begitulah namanya dipanggil pertama kali) juga setia menemani persiapan pernikahan kami dan ambil bagian juga di foto pre-wedding …

Pertama kalinya mengajak Kinsey pergi ke McDonald Kemang naik vespa sedikit membuat nervous, takut jatuh, takut ngga bisa diem, tapi semuanya ternyata baik baik saja dan kita sangat menikmati saat saat berdua di motor itu.

Masih banyak lagi yang belum diceritakan, inilah yang membuat saya sayang jika harus melepas skuter mungil ini. Walapun sejalannya waktu, kesibukan makin menjadi, sehingga jarang terluangkan waktu mengelus elus si perkedel. TAPI, bulan Mei yang lalu, disempatkanlah menengok kembali cinta lama yang duduk diam dipojokan garasi … “Let’s do it again…” (To Be Continued …)

 

2 Replies to “Cinta Lama Bersemi Kembali – Part 1”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s